BADUNG — Sebuah ruang demokrasi tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal. Ada kalanya sebuah gagasan tumbuh dari pengalaman hidup yang panjang, dari berbagai pekerjaan, perjumpaan dengan banyak orang, aktivitas organisasi, dunia seni, hingga pengalaman berada di tengah dinamika gerakan mahasiswa.

Begitulah kisah di balik lahirnya Democracy Creative Space (DCS) KPU Kabupaten Badung. Gagasan dan konsep ruang ini lahir dari pemikiran Agung Rio Swandisara, S.H., Anggota KPU Kabupaten Badung sekaligus Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia.

DCS dirancang sebagai ruang yang mempertemukan pendidikan demokrasi, informasi kepemiluan, kreativitas dan partisipasi masyarakat. Namun di balik konsep tersebut, terdapat sebuah perjalanan personal yang panjang. Perjalanan seorang anak yang sejak muda terbiasa berjuang, mencoba berbagai pekerjaan, mengalami pendidikan yang sempat terhenti, aktif dalam organisasi, hingga akhirnya berada di dunia kepemiluan.

Anak Istimewa dari Seorang Ibu

Jauh sebelum mengenal dunia kepemiluan, Rio tumbuh sebagai seorang anak yang melihat perjuangan hidup dari dekat, terutama dari sosok ibunya. Kondisi tersebut ikut membentuk dirinya menjadi pribadi yang terbiasa bekerja keras dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi keadaan.

Sejak muda, berbagai pekerjaan pernah dijalaninya. Ia pernah menjadi sales, mengerjakan janur penjor, dekorasi, fotografi, hingga pekerjaan di bidang kuliner. Berbagai pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana dan tidak berkaitan satu sama lain, tetapi dari sanalah ia belajar berhadapan langsung dengan masyarakat.

Setiap pekerjaan memberikan pengalaman yang berbeda. Ia belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, memahami karakter manusia, bekerja dengan berbagai kondisi dan menghargai setiap bentuk pekerjaan. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari cara pandangnya dalam melihat kehidupan dan masyarakat.

Dari Kampus Seni, Belajar Berani Bersuara

Kecintaan terhadap seni kemudian membawanya menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Jurusan Karawitan. Dunia tabuh, tari dan musik memang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak lama. Namun masa kuliah di ISI Denpasar ternyata tidak hanya memberinya pengalaman tentang seni.

Pada 2008, ISI Denpasar mengalami dinamika besar terkait persoalan pemilihan ulang rektor. Sejumlah mahasiswa dan dosen menyampaikan aspirasi dan melakukan berbagai aksi sebagai bentuk penolakan terhadap proses pemilihan ulang tersebut. Gerakan tersebut berkembang menjadi salah satu dinamika penting di lingkungan kampus pada masa itu.

Rio menjadi salah satu mahasiswa yang terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa tersebut. Dari Jurusan Karawitan pada angkatannya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang aktif terlibat dalam gerakan tersebut. Pengalaman itu menjadi salah satu fase penting dalam kehidupannya karena untuk pertama kalinya ia merasakan secara langsung bagaimana aspirasi diperjuangkan dan bagaimana perbedaan pendapat menjadi bagian dari kehidupan demokratis di lingkungan kampus.

Pengalaman tersebut kemudian meninggalkan pemahaman bahwa pendidikan bukan hanya persoalan ruang kelas dan buku. Kampus juga merupakan ruang untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, memperjuangkan aspirasi serta belajar menghargai perbedaan.

Namun, perjalanan pendidikan di ISI Denpasar akhirnya harus terhenti karena persoalan ekonomi. Keputusan tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah, tetapi berhentinya pendidikan tidak membuat keinginannya untuk belajar ikut berhenti.

Ketika Pandemi Mengubah Banyak Hal

Bertahun-tahun kemudian, pandemi COVID-19 menjadi salah satu fase paling berat dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas ekonomi terganggu, banyak pekerjaan terhenti dan berbagai kegiatan pemerintahan maupun kepemiluan harus mengalami penyesuaian.

Pada masa itu, Rio sedang menjalankan tugas sebagai Ketua Panwaslu Kecamatan Mengwi. Ketika tahapan kepemiluan mengalami jeda sekitar empat bulan, ia pun menghadapi situasi yang sama seperti banyak masyarakat lainnya: harus mencari cara untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian.

Salah satu caranya adalah dengan berjualan nasi jinggo. Bagi Rio, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama dilakukan dengan cara yang baik dan untuk tujuan yang benar. Pengalaman tersebut justru semakin memperkuat pemahamannya tentang kehidupan masyarakat dan bagaimana sebuah keadaan dapat memaksa seseorang untuk beradaptasi.

Menariknya, pandemi yang menjadi masa penuh kesulitan justru menjadi titik balik dalam perjalanan pendidikannya. Keinginan untuk kembali belajar muncul semakin kuat. Jika sebelumnya pendidikan di ISI Denpasar harus terhenti karena persoalan ekonomi, kali ini ia memilih untuk melanjutkan pendidikan di bidang hukum.

Ia kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Pilihan tersebut mempertemukan pengalaman masa lalunya dengan bidang yang semakin dekat dengan demokrasi, konstitusi, hukum dan kepemiluan.

Dari seni menuju hukum, perjalanan pendidikannya memperlihatkan bahwa belajar tidak selalu harus berjalan melalui satu jalur yang lurus. Ada kalanya seseorang harus berhenti, berbelok dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan yang berbeda.

Belajar dari Banyak Organisasi dan Banyak Manusia

Selain pendidikan formal, perjalanan Rio juga banyak dibentuk oleh pengalaman organisasi. Ia pernah terlibat dalam berbagai organisasi, mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Dari ruang-ruang organisasi tersebut, ia bertemu dengan berbagai karakter, latar belakang, kepentingan dan cara berpikir.

Organisasi mengajarkannya bahwa sebuah gagasan tidak dapat tumbuh hanya karena satu orang memiliki ide. Dibutuhkan kemampuan mendengar, berdiskusi, menerima perbedaan, membangun kolaborasi dan menyatukan berbagai pandangan menjadi tujuan bersama.

Pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan berbagai aktivitas yang ia tekuni. Ia pernah aktif dalam dunia tabuh dan tari, menjadi vokalis band, menggeluti radio komunikasi, hingga kini aktif bersepeda. Berbagai aktivitas tersebut mempertemukannya dengan banyak komunitas dan semakin memperluas ruang interaksinya dengan masyarakat.

Dari berbagai pengalaman itu, satu hal terus terbentuk dalam dirinya: kemampuan berkomunikasi dan memahami manusia. Bagi seseorang yang kemudian dipercaya menangani sosialisasi, pendidikan pemilih dan partisipasi masyarakat, pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memahami bagaimana pesan demokrasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat.

Dari Pengalaman Menjadi Gagasan

Ketika kemudian menjadi Anggota KPU Kabupaten Badung dan dipercaya sebagai Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia, berbagai pengalaman masa lalu tersebut menemukan relevansinya.

Rio melihat bahwa pendidikan demokrasi tidak selalu harus disampaikan melalui kegiatan formal dengan pola komunikasi satu arah. Terutama bagi generasi muda, diperlukan ruang yang lebih terbuka, kreatif dan memungkinkan mereka berinteraksi secara langsung.

Anak muda membutuhkan tempat untuk bertanya, berdiskusi, membaca, menyampaikan gagasan dan bahkan berbeda pendapat. Demokrasi tidak cukup hanya dikenalkan melalui definisi atau materi sosialisasi, tetapi perlu hadir dalam pengalaman sehari-hari.

Dari pemikiran tersebut kemudian lahir gagasan Democracy Creative Space.

DCS dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan pendidikan pemilih, informasi kepemiluan, kreativitas, diskusi dan partisipasi masyarakat. Konsepnya adalah mendekatkan demokrasi kepada masyarakat melalui sebuah ruang yang lebih terbuka dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

Demokrasi Tidak Hanya Ada di Dalam Bilik Suara

Bagi Rio, demokrasi tidak berhenti ketika seseorang selesai memberikan suara di dalam bilik pemungutan suara. Demokrasi juga hadir ketika masyarakat berani bertanya, menyampaikan pendapat, berdiskusi, menghargai perbedaan dan ikut mengambil bagian dalam kehidupan publik.

Demokrasi juga membutuhkan masyarakat yang mampu menyaring informasi, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. Karena itu, pendidikan pemilih tidak hanya berbicara mengenai bagaimana seseorang menggunakan hak pilih, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran untuk menjadi warga negara yang aktif, kritis dan bertanggung jawab.

Cara pandang tersebut yang kemudian ingin dibangun melalui DCS. Sebuah ruang yang tidak hanya berbicara tentang pemilu, tetapi berusaha menjadikan demokrasi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Rio seolah memiliki benang merah yang panjang. Seorang anak yang tumbuh dari perjuangan seorang ibu, pernah bekerja serabutan, menjadi mahasiswa seni, terlibat dalam gerakan mahasiswa, harus menghentikan pendidikan karena persoalan ekonomi, berjualan nasi jinggo di tengah pandemi, aktif dalam organisasi, berkecimpung dalam berbagai aktivitas seni dan komunitas, hingga akhirnya menjadi penyelenggara pemilu.

Setiap fase memberikan pengalaman yang berbeda. Namun seluruhnya membentuk cara pandang tentang kehidupan, masyarakat, komunikasi dan partisipasi.

Dari Jalan yang Berliku, Menjadi Ruang untuk Banyak Orang

Perjalanan hidup tidak selalu memberikan jalan yang lurus. Ada pendidikan yang harus berhenti, pekerjaan yang harus berganti, mimpi yang harus ditunda dan keadaan yang terkadang memaksa seseorang untuk memulai kembali.

Tetapi perjalanan yang berliku tidak selalu berarti perjalanan yang sia-sia. Justru dari berbagai persimpangan itulah seseorang dapat memperoleh pengalaman yang tidak bisa didapatkan hanya dari buku atau ruang kelas.

Bagi Rio, pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari gagasan yang diwujudkan melalui DCS. Sebuah ruang yang ingin membuat demokrasi terasa lebih dekat, terutama bagi masyarakat dan generasi muda.

DCS pada akhirnya bukan sekadar sebuah tempat. Ia merupakan gagasan tentang bagaimana pendidikan demokrasi dapat dikemas dengan cara yang lebih terbuka, kreatif dan relevan, sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi dan berpartisipasi.

Kisah di balik DCS pun menjadi lebih dari sekadar kisah tentang lahirnya sebuah inovasi. Ia adalah cerita tentang bagaimana pengalaman hidup seseorang dapat menjadi sumber gagasan, dan bagaimana gagasan tersebut kemudian diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari janur penjor hingga kamera. Dari tabuh hingga organisasi. Dari ruang kampus hingga gerakan mahasiswa. Dari nasi jinggo di tengah pandemi hingga dunia kepemiluan.

Semua pengalaman itu pada akhirnya bertemu dalam sebuah gagasan bernama Democracy Creative Space.

Sebuah ruang untuk belajar demokrasi, ruang untuk berani bersuara, dan ruang agar gagasan-gagasan baru tentang demokrasi dapat terus tumbuh.